Masa kanak-kanak bagiku adalah sebuah masa dimana keingin-tahuan melebihi segalanya, begitu juga dengan diriku. Waktu itu bapakku adalah seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan kayu yang memiliki pangkat kelas menengah. Dalam hal khusus bapakku boleh membawa mobil dinas, sebut saja si-Hitam, si-Hitam adalah sebuah mobil tua yang sering mogok, namun sering juga membawa keluargaku berkeliling kota saat liburan tiba.
Suatu hari, bapakku pulang membawa mobil itu, aku mengiranya mobil itu akan mengantarku keliling-keliling kota lagi, namun, mobil itu ternyata akan di perbaiki oleh bapakku, oh iya, bapakku juga seorang teknisi mesin, alias bekerja di bagian per-bengkelan di perusahaan tersebut. Karena aku adalah anak berbakti suka menabung dan murah senyum, maka aku ingin ikut bapakku memperbaiki si-Hitam. Tibalah kami di suatu hamparan padang pasir ditumbuhi dengan berbagai macam bunga-bunga nan indah ... lhoo... tibalah kami di tempat Eksekusi si-Hitam.
Awalnya aku hanya bermain-main disekitar si-Hitam menunggu bapakku yang memperbaikinya, karena merasa bosan melihat bapakku keluar masuk kolong mobil, akhirnya aku memutuskan untuk bermain didalam mobil. Didalam mobil ternyata berasa lebih dingin dan nyaman. Hingga aku teringat percakapan ku dengan bapakku beberapa waktu yang lalu.
"Pak,itu mobilnya kok bisa jalan sendiri? Kan ga' ada kakinya",tanyaku antusias.
"oh, itu karena ada mesinnya, jadi mobilnya bisa jalan",katanya menjawab pertanyaan anak idiot ini.
Karena otakku yang sebesar kenari, aku tidak begitu mengingat jelas apa kata-kata bapak waktu itu, dan saat itu juga aku melihat sebuah benda tergantung di leher kemudi mobil. Aku memanggil bapakku, namun tidak di sahut-sahut. Ya, Aku ingin bertanya untuk apa benda itu, dan mengapa tergantung disitu. Tanpa habis pikir aku pegang benda misterius itu, dan ternyata bisa diputar. "Clek, Brrrmmmmmm...." Mesin mobil berbunyi dan aku berteriak kegirangan. Tiba-tiba saja ada seorang berwajah hitam berada di jendela mobil. Aku berteriak histeris. Dan manusia berwajah hitam tak dikenal itu pun segeram mematikan mesin mobil. Dia adalah bapakku yang sedang dibawah mobil saat aku dengan bodohnya menyalakan mesin. Untung saja persnelingnya tidak masuk, bisa-bisa terjadi hal yang tidak diingnkan. Mulai saat itu, aku sering bertanya kalau-kalau tidak tahu akan sesuatu, hingga saat ini. Bahkan meskipun aku sudah tau, namun aku ragu, aku akan bertanya untuk memastikan.
titik
Rabu, 16 Maret 2011
Pontianak Part II
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar