Welcome to my Blog ! !

titik

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Rabu, 16 Maret 2011

Yogjakarta, Sepeda Kumbang dan Tattoo

Seperti tulisan sebelumnya yang bercerita tentang aku merantau ke kota gudeg ini, di bagian ini aku bakal menceritakan sedikit tentang ketololan ku dan sedikit tentang hal-hal yang pernah aku lakuin disana.

Bermula ketika aku ingin sekali mencoba menaiki sepeda onthel, yang sering disebut dengan sepeda kumbang. Saat itu kulihat anak dari kakak ibuku (sebut saja mas wawan) sedang berjalan menggunakan sepeda butut kurus kering disudut rumah. sepeda itu awalnya adalah sepeda kepunyaan kakek ku yang diwariskan turun temurun menggantikan harta turun temurun. Sebentar, aku akan menceritakan sekilas biografi kakek ku menurut cerita ibu ku. Kakek ku adalah seorang anak dari keluarga sederhana yang (kata ibuku) diangkat anak oleh seorang pria berketurunan raja. Oleh karena itu kakek ku juga mewarisi sebagian hartanya, namun karena iri, sang anak kandung dari pria tersebut tidak ikhlas dan merebut warisan yang sebenarnya diberikan ke kakek ku. Kata ibuku sih kakek ku hanya diberi beberapa bidang sawah di belakang rumah kami, yang saat ini sudah tidak ada lagi karena di ratakan oleh gempa beberapa tahun silam, dimana kakekku juga menjadi korban jiwa saat gempa itu terjadi. Lanjut ke cerita awal ya, aku yang melihat mas Wawan sedang mengayuh sepeda-tua-butut itu, juga ingin bisa mengendarai sepeda itu.

Keesokan harinya saat semua orang sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing, aku langsung pergi ke gudang dibelakang rumah dan mengambil sepeda itu, lantas menaikinya, sepeda yang tinggi itu sangat susah untuk dinaiki oleh anak pendek dan berotak kecil seperti ku, langsung saja aku lompat ke sadel. Tak ayal, keseimbangan tak ada dan Bruaaaak.. Aku dan sepeda-tua-butut itu sukses jatuh dan aku menangis kesakitan.

2 minggu berlalu dan aku lupa akan kesalahan fatal dengan sepeda-tua-butut itu, dan aku menjalani hari-hari di Taman Kanak-Kanak dengan gembira seperti anak-anak lain. Ada insiden menarik saat aku bersekolah disana, aku menyukai seekor simpanse.. salah.. aku menyukai seorang murid cewek,, hahaha...mungkin hanya sekedar suka melihat. Karena aku ingin mendapatkan perhatiannya, aku langsung membeli sebuah permen yang berhadiahkan tattoo.. entah setan apa yang merasuki ku hingga aku meminta kepada ibuku membelikan permen 4 buah, 2 buah aku berikan ke cewek itu, dan 2 buah aku makan sendiri,sedangkan ke-4 tattoo nya aku pakai di lengan ku. Melihat aku bertattoo ibuku sontak marah dan membawa ku ke puskesmas terdekat, maksud ku sumur. Ya, sekolah ku waktu itu memiliki sebuah sumur air bersih yang didalamnya hidup 2 ekor Lele Jumbo (nostalgia). Tattoo yang kupakai saat itu mungkin berjenis semi-permanent (emank ada jenis kaya gitu?) Asli, susah banget buat di hapus, digosok-gosok pake air sampai kulit ku terkelupas pun tak bisa hilang. Alhasil aku menjerit-jerit, tak lama setelah penyiksaan itu, datang penjaga sekolah membawa minyak tanah dan membantu ibuku membersihkan tattoo ku. Setelah selesai aku segera masuk ke kelas dengan lengan berwarna merah dengan harum khas minyak tanah, membuat ku merasa pusing. Sampai di kelas, pelajarannya adalah anatomi tubuh alias menyebut nama-nama anggota tubuh, tiba saatnya bu guru menanyakan apa nama anggota tubuh dibawah bibir (dagu ) . Seisi kelas diam sejuta bahasa, dan aku yang mungkin terkena syndrom minyak tanah akut mendapatkan ilham di otak ku yang kecil.

"Jenggot bu", Kata ku.
"Apa? Kok jenggot? Salah", jawab bu guru.
"Loh, kata bapakku itu jenggot bu",tukas ku ga' mau kalah

Kalian tahu kan dimana letak kesalahan ku? Itulah bodohnya aku.

Lanjut ke masalah sepeda, waktu itu teman satu sekolah ku memiliki hoby petualangan sama halnya dengan diriku. Dia mengaku pernah jalan mengendarai sepeda bersama temannya ke pantai Parang Teritis, pantai itu dekat dengan desa dimana aku tinggal, Pundong, Bantul. Karena aku yang berjiwa petualang, ingin segera aku bisa mengendarai sepeda, kupinjam sepeda milik teman ku itu dan berlatih, awal-awal sih hanya berjalan lurus, setelah agak lancar akhirnya aku nekat untuk mengendarai sepeda-tua-butut ku. Sepeda itu aku naiki dan berhasil, aku bisa jalan. Lagi-lagi aku nekat untuk mengendarai sepeda keliling desa. Ngebut, dan urak-urakan , itulah hal pertama yang aku lakukan. Karena aku yang masih terbilang baru untuk mengendarai sepeda, tentu aku belum bisa mengukur kecepatan dan ketepatan untuk mengerem mendadak. Ya, aku dan sepeda-tua-butut ku itu sukses masuk kedalam kubangan sampah (jaman dulu di jawa, masyarakat pada umumnya membuat lubang persegi agak dalam untuk menimbun sampah).

Dan aku bersumpah, tidak lagi untuk mengendarai sepeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar